Diploma III Keperawatan (AKPER)

STIKes RS.Haji Medan


 

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN ABLASIO RETINA

TINJAUAN TEORITIS

A. DEFENISI

Ablasio retina adalah suatu keadaan terlepasnya sehingga terjadi penggumpalan cairan retina antara lapisan basilus (sebatang) dan konus (sel kerucut) dengan sel epitelium pigmen retina (Vera H. Darling Magaret R. 1996 : 73).

 

B. ETIOLOGI

a. Malformasi kongenital

b. Kelainan metabolisme

c. Penyakit vaskuler

d. Inflamasi intraokuler

e. Neoplasma

f. Trauma

g. Perubahan degeneratif dalam vitreus atau retina

(C. Smelzer, Suzanne, 2002).

C. PATOFISIOLOGI

Pada Ablasio Retina cairan dari vitreus bisa masuk ke ruang sub retina dan bercampur dengan cairan sub retina. Ablasio Retina dapat diklasifikasikan secara alamiah menurut cara terbentuknya:

  1. Ablasio Rhegmatogen terjadi setelah terbentuknya tulang atau robekan dalam retina yang menembus sampai badan mata masuk ke ruang sub retina, apabila cairan terkumpul sudah cukup banyak dapat menyebabkan retina terlepas.
  2. Ablasio oleh karena tarikan, terjadi saat retina mendorong ke luar dari lapisan epitel oleh ikatan atau sambungan jaringan fibrosa dalam badan kaca.
  3. Ablasio eksudatif, terjadi karena penumpukan cairan dalam ruang retina akibat proses peradangan, gabungan dari penyakit sistemik atau oleh tumor intraocular, jika cairan tetap berkumpul, lapisan sensoris akan terlepas dari lapisan epitel pigmen.

D. MANIFESTASI KLINIS

Ablasio retina akan memberikan gejala terdapatnya:

1.      gangguan penglihatan yang kadang-kadang terlihat sebagai tabir yang menutup.

       2.  Riwayat melihat benda mengapung atau pendaran cahaya(fotopsia) / light flashes atau keduanya.

      3      Floater dipersepsikan sebagai titik-titik hitam kecil/rumah laba-laba

       .4. Pasien akan melihat bayangan berkembang atau tirai bergerak dilapang pandang ketika retina benar-benar terlepas dari epitel berpigmen

       5.   Penurunan tajam pandangan sentral aau hilangnya pandangan sentral menunjjukkan bahwa adanya keterlibatan macula

E. PENATALAKSANAAN MEDIS


Pengobatan pada ablasio retina adalah dengan tindakan pembedahan atau operasi. Tujuan operasi adalah untuk mengeluarkan cairan sub retina, menutup lubang atau robekan dan untuk melekatkan kembali retina. Hal ini dikarenakan jarang terjadi pertautan kembali secara spontan. Apabila diagnosis ablasio retina telah ditegakkanmaka pasien harus MRS dan dipersiapkan untuk menjalani operasi.

A. Persiapan pre-operatif

Sedikitnya 5 – 7 hari sebelum operasi, penderita sudah harus masuk rumah sakit, harus tirah baring sempurna (Bedrest total).  Kepala dan mata tidak boleh digerakan, mata harus di tutup segera, segala keperluan pen-derita dibantu. Kedua mata ditetesi midriatik sikloplegik seperti: Atropin tetes 1 % jangan menggunakan obat- Obat mata dalam bentuk salep mata karena akan menghalangi Jalannya operasi (kornea akan keruh akibat salep).  Persiapan lainnya sama dengan persiapan operasi katarak, operasi ablasio retina menggunakan anestesi umum tetapi bila menggunakan anestesi lokal maka 1 jam sebelum operasi diberikan luminal (100 mg) atau largactil (100 mg) IM, kemudian ½ jam sesudahnya diberi pethidine (50 mg) dan phenergan (25 mg) IM.

B. Operasi

a)     Elektrodiatermi

Dengan menggunakan jarum elektroda, melalui sclera untuk memasukkan cairan subretina dan mengeluarkan suatu bentuk eksudat dari pigmen epithelium yang menempel pada retina.

b)   Sclera Buckling

Suatu bentuk tehnik dengan jalan sclera dipendekkan, lengkungan terjadi dimana kekuatan pigmen epithelium lebih menutup retina, mengatasi pelepasan retina dan menempatkan posisi semula, maka sebuah silikon kecil diletakkan pada sclera dan diperkuat dengan membalut melingkar.

c)   Photocoagulasi

Suatu sorotan cahaya dengan laser menyebabkan dilatasi pupil. Dilakukan dengan mengarahkan sinar laser pada epithelium  yang mengalami pigmentasi.

d)   Cyro Surgery

Suatu pemeriksaan super cooled yang dilakukan pada sclera, menyebabkan kerusakan minimal seperti suatu jaringan parut, pigmen epithelium melekat pada retina.

e)   Cerclage

Operasi yang dikerjakan untuk mengurangi tarikan badan kaca. Pada keadaan cairan retina yang cukup banyak dapat dilaksanakan phungsi lewat sklera.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK DAN PENUNJANG

a.       Pemeriksaan visus

  1. Ophtalmoskop indirek
  2. USG mata
  3. Campur Visi

G. KOMPLIKASI

a. Komplikasi awal setelah pembedahan

b.  Peningkatan TIO

      c.     Glaukoma

      d.      Infeksi

e.   Ablasio koroid

           f. Kegagalan pelekatan retina

           g. Ablasio retina berulang

b. Komplikasi lanjut

          1.  Infeksi

           a.  Lepasnya bahan buckling melalui konjungtiva atau erosi melalui bola mata

            b.Vitreo retinpati proliveratif (jaringan parut yang mengenai retina)

            c.Diplopia

d.Kesalahan refraksi

            e.Astigmatisme

 

ILUSTRASI KASUS KASUS  ABLASIO RETINA

 

ANAMNESIS

Identitas

Nama               : Ny. S

Usia                 : 52 tahun

Alamat                        : Jl. Budaya Batu Ampar, Jakarta Timur

Pekerjaan         : swasta

Pendidikan      : tamat SD

Agama             : Islam

Suku                : Jawa

 

Keluhan Utama

Penglihatan mata kanan mendadak buram sejak 5 hari SMRS.

 

Riwayat Penyakit Sekarang

Pada 5 hari SMRS, mata kanan pasien mendadak buram, tidak merah dan tidak nyeri. Tidak ada riwayat trauma sebelumnya. Pasien merasa pandangan menjadi gelap seperti ada rambut atau asap berterbangan di matanya. Lama kelamaan semakin gelap hingga yang kelihatan hanya pinggir sebelah kanan. Pasien tidak melihat ada kilatan cahaya berulang. Tidak terdapat riwayat penglihatan kabur sesaat yang hilang timbul sebelumnya. Pasien berobat ke dokter mata lalu diperiksa dan dibilang ada masalah di retina kanan dan perlu dioperasi. Pasien kemudian dirujuk ke RSCM.

Pasien menggunakan kacamata minus (-3 dioptri) di kedua mata sejak 10 tahun lalu. Pasien tidak mengeluh ada gangguan pada mata sebelumnya.

 

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat Hipertensi (+) sejak 10 tahun yang lalu, namun pasien tidak berobat teratur. Riwayat Diabetes Mellitus disangkal.

 

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak terdapat anggota keluarga dengan keluhan serupa dengan pasien.

 

PEMERIKSAAN FISIK:

Keadaan Umum          : pasien tampak sakit sedang

Kesadaran                   : compos mentis

Tanda Vital

Tekanan darah             : 140/80 mmHg

Frekuensi nadi             :  84 x/menit

Frekuensi nafas           :  16 x/ menit

Suhu                            :  36 oC

Lain-lain                      : dalam batas normal

PEMERIKSAAN OFTALMOLOGIS

Mata Kanan

Pemeriksaan

Mata Kiri

1/ 300 proyeksi baik

Visus

6/ 12

Tenang

Palpebra/ konjungtiva

Tenang

Jernih

Kornea

Jernih

Dalam

Bilik mata depan

Dalam

Bulat, sentral, middilatasi

Iris/ pupil

Bulat, sentral, refleks cahaya (+)

Keruh, shadow test (+)

Lensa

Keruh, shadow test (+)

n/ p

Tekanan Intra Okular

n/ p

Baik ke segala arah

Pergerakan

Baik ke segala arah

Tobacco dust (+)

Badan kaca

Jernih

Papil bulat, batas tegas, CDR 0,3, aa/vv = 2/3

Ablasio retina (+) di superior temporal meluas ke inferior temporal. Corrugated (+), Tear (+), macula on

Funduskopi

Papil bulat, batas tegas, CDR 0,3, aa/vv = 2/3

 

11 POLA FUNGSIONAL GORDON

1)                  Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan

Yang perlu dikaji : bagaimana persepsi pasien tentang hidup sehat, dan apakah dalam melaksanakan talaksana hidup sehat penderita membutuhkan bantuan orang lain atau tidak.

Berdasarkan Kasus : Kemampuan merawat diri pasien menurun dan juga terjadi perubahan pemeliharaan kesehatan.

2)                  Pola nutrisi metabolik

Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah pola makan dan minum klien selama ini?, Kaji apakah klien alergi terhadap makanan tertentu?, Apakah klien menghabiskan makanan yang diberikan oleh rumah sakit?, Bagaimana dengan BB klien, apakah mengalami penurunan atau sebaliknya?

·         Biasanya klien dengan ablasio retina ini tidak mengalami perubahan nutrisi dan metabolisme.

3)                  Pola eliminasi

Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah pola BAB dan BAK klien selama ini?, Apakah klien menggunakan alat bantu untuk eliminasi?, Kaji konsistensi BAB dan BAK klien.

·         Biasanya klien dengan ablasio retina ini tidak mengalami gangguan dan perubahan eliminasi.

4)                  Pola aktivas latihan

Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah perubahan pola aktivitas klien?, Kaji aktivitas yang dapat dilakukan klien secara mandiri, Kaji tingkat ketergantungan klien.

Berdasarkan kasus : Biasanya pada pola ini pasien mengalami ketidakaktifan diri dan ganguan karena disini penglihatan klien mulai buram.

5)                  Pola istirahat tidur      

Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah pola tidur klien ?, Kaji frekuensi dan lama tidur klien, Apakah klien mengalami gangguan tidur?, Apakah klien mengkonsumsi obat tidur/penenang?, Apakah klien memiliki kebiasaan tertentu sebelum tidur?.

·         Biasanya pola tidur klien berubah sampai berkurangnya pemenuhan kebutuhan tidur klien.

6)                  Pola kognitif persepsi

Pada pola ini kita mengkaji: Kaji tingkat kesadaran klien, Bagaimanakah kondisi kenyamanan klien?, Bagaimanakah fungsi kognitif dan komunikasi klien?.

Berdasarkan Kasus : Pengelihatan klien buram, Pasien merasa pandangan menjadi gelap seperti ada rambut atau asap berterbangan di matanya. Lama kelamaan semakin gelap hingga yang kelihatan hanya pinggir sebelah kanan. Pasien tidak melihat ada kilatan cahaya berulang.

7)                  Pola persepsi diri dan konsep diri

Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah klien memandang dirinya terhadap penyakit yang dialaminya?, Apakah klien mengalami perubahan citra pada diri klien?, Apakah klien merasa rendah diri?

·         Biasanya klien merasa resah dan cemas akan terjadi kebutaan.

8)                  Pola peran hubugan

Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah peran klien di dalam keluarganya?, Apakah terjadi perubahan peran dalam keluarga klien?, Bagaimanakah hubungan sosial klien terhadap masyarakat sekitarnya?.

·         Biasanya hubungan klien dengan orang disekitarnya menurun begitu juga dalam melaksanakan perannya.

9)                  Pola reproduksi dan seksualitas

Pada pola ini kita mengkaji: Bagaimanakah status reproduksi klien?.

·         Biasanya pola ini tidak mengalami gangguan.

10)              Pola koping dan toleransi stress

Pada pola ini kita mengkaji: Apakah klien mengalami stress terhadap kondisinya saat ini?, Bagaimanakah cara klien menghilangkan stress yang dialaminya?, Apakah klien mengkonsumsi obat penenang?.

·         Biasanya klien sering bertanya kapan akan dilakukan tindakan operasi dan merasa cemas karena takut terjadinya kecacatan pada penglihatan.

11)              Pola nilai dan kepercayaan

Pada pola ini kita mengakaji: Kaji agama dan kepercayaan yang dianut klien, Apakah terjadi perubahan pola dalam beribadah klien?.

 

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

No

Diagnosa Kep

(NANDA)

Ditandai dengan DS/ DO

Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)

Intervensi

Kep dan Aktivitas (NIC)

 

1.

 

Gangguan Persepsi Panca indera ( Penglihatan )

 

Data Subjektif :

Pengelihatan klien buram, Pasien merasa pandangan menjadi gelap seperti ada rambut atau asap berterbangan di matanya. Lama kelamaan semakin gelap hingga yang kelihatan hanya pinggir sebelah kanan. Pasien tidak melihat ada kilatan cahaya berulang.

Data Objektif :

Papil bulat, batas tegas, CDR 0,3, aa/vv = 2/3

Ablasio retina (+) di superior temporal meluas ke inferior temporal. Corrugated (+), Tear (+), macula on

 

Defenisi:

perubahan dalam jumlah maupun  pola rangsangan yang diterima yang disertai dengan penyusutan,

pelebihan, penyimpangan,

atau gangguan tanggapan

terhadap rangsangan

tersebut.

Batasan Karaktristik :

·         Berubahnya pola

perilaku

·         Berubahnya  ketajaman pancaindera

·         Distorsi pancaindera

·         Konsentrasi yang

lemah

·         Kegelisahan

Faktor-faktor yang berhubungan :

·         Pengintegrasian pancaindera yang

terganggu

·         Penerimaan terhadap pancaindera yang

terganggu

 

NOC : Kompensasi Tingkahlaku Penglihatan

 

Defenisi: kegiatan untuk mengimbangi lemahnya penglihatan

Indikator :

·      Pantau gejala dari semakin buruknya penglihatan

·      Posisikan diri untuk menguntungkan penglihatan

·      Ingatkan yang lain untuk menggunakan teknik yang menguntungkan penglihatan

·      Gunakan pencahayaan yang cukup untuk aktivitas yang sedang dilakukan

·      Memakai kacamata dengan benar

·      Memakai kontak lens dengan bear

·      Merawat kacamata dengan benar

·      Menggunakan alat bantu penglihatan yang lemah

·      Menggunakan layanan pendukung untuk penglihatan yang lemah

·      Menggunakan alat bantu komputer

 

 

NOC : Kontrol Kecemasan

 

Defenisi:

tindakan seseorang untuk menghilangkan dan

mengurangi perasaan

ketakutan dan tertekan yang sumbernya tidak bisa diidentifikasi.

Indikator :

·      Memantau intensitas

kecemasan

·      Menghilangkan pencetus kecemasan

·      Menurunkan rangsang lingkungan ketika cemas

·      Mencari informasi untuk mengurangi kecemasan

·      koping terhadap situasi yang menekan

·      Menggunakan strategi koping yang efektif

·      Menggunakan teknik relaksasi untuk mengurangi rasa cemas

·      Melaporkan jangka waktu penurunan setiap episode

 

NIC : Peningkatan Komunikasi : Defisit

melihat

Defenisi: membantu dalam menerima dan mempelajari metode alternatif untuk hidup dengan gangguan penglihatan.

Aktivitas :

·      Kenali diri sendiri ketika memasuki ruang pasien

·      Catat reaksi pasien terhadap rusaknya penglihatan (misal, depresi, menarik diri, dan menolak kenyataan

·      Menerima reaksi pasien  terhadap rusaknya penglihatan

·      Bantu pasien dalam menetapkan tujuan yang baru untuk belajar bagaimana “melihat” dengan indera yang lain

·      Andalkan penglihatan pasien yang tersisa sebagaimana mestinya

·      Berjalan satu dua langkah di depan pasien, dengan siku pasien berada di sikumu

·      Rujuk pasien dengan masalah penglihatan ke agen yang sesuai

·      Jangan memindahkan benda-benda di kamar pasien tanpa memberitahu pasien

·      Bacakan surat, koran, dan informasi lainnya pada pasien

·      Identifikasi makanan yang ada dalam baki dalam kaitannya dengan angka-angka pada jam

·      Gambarkan lingkungan kepada pasien

NIC : Manajemen

Lingkungan

Defenisi: memanipulasi sekeliling pasien untuk kebaikan terapeutik.

Aktivitas :

 

·   Ciptakan lingkungan yang aman untuk pasien

·   Identifikasi kebutuhan rasa aman pasien,

berdasarkan tingkatan fungsi fisik dan kognisi dan sejarah perilaku di masa lalu

·   Hilangkan objek-objek yang membahayakan dari lingkungan

·   Sediakan kasur yang bersih lagi nyaman

·   Beri keluarga/orang

penting lainnya

informasi tentang

menciptakan lingkungan rumah yang aman bagi pasien

 

2.

 

 

Resiko cedera sehubungan dengan penurunan tajam penglihatan.

 

Definisi : Suatu kondisi individu yang berisiko untuk mengalami cedera sebagai akibat dari kondisi lingkungan yang berhubungan dengan sumber-sumber adaptif dan pertahanan.

b. Faktor Risiko :

Eksternal :

  • Biologis ( tingkat imunisasi komunitas, mikroorganisme)
  • Kimia (misalnya, racun,polutan, obat-obatan, agen farmasi,alkohol, nikotin,pengawet, kosmetik, pewarna)
  • Orang (agen nosokomial, pola pemupukan, pola-pola kognitif, afektif dan psikomotor)
  • Jenis transportasi
  • Nutrisi  (vitamin, jenis makanan)
  • Fisik (desain, struktur, dan penataan komunitas, bangunan, dan /perlengkapan)

Internal :

  • Profil darah yang abnormal (leukositosis atau leukopenia, perubahan faktor penggumpalan darah, trombosiopenia, menurunnya kadar hemoglobin)
  • Disfungsi biokimia
  • Usia perkembangan (psikologis,psikososial)
  • Disfungsi efektor
  • Penyakit imun/ autoimun
  • Disfungsi integratif
  • Malnutrisi
  • Fisik (kulit terkelupas, perubahan mobilitas)
  • Psikologis (orientasi afektif)
  • Disfungsi sensori
  • Hipoksia jaringan

 

Data Subjektif : Pada 5 hari SMRS, mata kanan pasien mendadak buram

Pasien merasa pandangan menjadi gelap seperti ada rambut atau asap berterbangan di matanya. Lama kelamaan semakin gelap hingga yang kelihatan hanya pinggir sebelah kanan

Riwayat Hipertensi (+) sejak 10 tahun yang lalu

 

Data Objektif :

Keadaan Umum          :

pasien tampak sakit

TD       : 140/80 mmHg

nadi     : 84 x/menit

nafas    : 16 x/ menit

Lensa : Keruh, shadow test (+)

 

NOC : Kontrol Risiko : Pelemahan Penglihatan

Definisi : tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi kemungkinan perubahan fungsi penglihatan

Pantau gejala kemunduran penglihatan

Pantau lingkungan yg membahayakan mata

Hindari bahaya utk mata

Gunakan penerangan yg cukup selama beraktivitas

Istirahat dari kegiatan yg menegangkan mata

Pantau gejala penyakit mata

Gunakan resep obat mata dg benar

Gunakan alat pelindung mata

Dapatkan pemeriksaan mata

 

NIC : Manajemen Keamanan

Aktifitas :

·         Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien

·         Identifikasi kebutuhan keamanan klien

·         Pindahkan benda-benda berbahaya dari sekitar klien

·         Pindahkan benda-benda berisiko dari lingkungan klien

·         Sediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih

·         Posisikan tempat tidur agar mudah terjangkau

·         Kurangi stimulus lingkungan

 

NIC : Pencegahan jatuh

Aktifitas :

·         Identifikasi deficit fisik yang berpotensi untuk jatuh

·         Identifikasi karakteristik lingkungan yang meningkatkan potensi jatuh ( seperti lantai yang licin)

·         Berikan peralatan yang menunjang untuk mengokohkan jalan

·         Ajarkan klien bagaimana berpindah untuk meminimalisir trauma

·         Hindari barang-barang berserakan di lantai

·         Ajarkan keluarga tentang faktor resiko yang berkontribusi pada jatuh dan bagaimana mengurangi resiko jatuh

Kaji keluarga dalam mengidentifikasi bahaya di rumah dan bagaimana memodifikasikannya

 

PERSIAPAN YANG DILAKUKAN OLEH PERAWAT SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN OPERASI

 

a. Persiapan penderita sebelum operasi

  • Mengatasi kecemasan
  • Membatasi aktivitas
  • Penutup mata harus selalu dipakai untuk mencegah atau membatasi pergerakan bola mata
  • Pengobatan dengan obat tetes mata jenis midriaticum untuk mencegah akomodasi dan kontriksi.

b. Persiapan penderita setelah operasi

  • Istirahatkan pasien (bad rest total) minimal dalam 24 jam pertama.
  • Ukur vital sign tiap jam dalam 24 jam pertama.
  • Evaluasi penutup mata
  • Bantu semua kebutuhan ADL
  • Perawatan dan pengobatan sesuai program

PENDIDIKAN KESEHATAN YANG DIBERIKAN PADA KLIEN DENGAN ABLASIO RETINA

Pada klien ablasio retina baik sebelum pembedahan maupun setelah pembedahan, perlu diberikan pendidikan kesehatan dalam merawat matanya, antara lain :

·         Diberikan pengetahuan mengenai perawatan diri setelah dioperasi

·         Dianjurkan untuk menjaga kebersihan mata

·         Setelah pembedahan retina perawat menekankan untuk menjaga posisi yang benar untuk memfasilitasi perekatan kembali lapisan retina.

·         Menkonsumsi anti oksidan (Vit C, Vit A, Vit E, Zinc, Cooper dan Lutein) menjaga agar dapat mencegah komplikasi lebih lanjut.

·         Hindari ekspose berlebih terhadap sinar ultraviolet misalnya dengan menggunakan kaca mata hitam agar mata tidak berkontak langsung dengan sinar matahari.

·         Pemeriksaan berkala dengan Amsler Grid

Amsler Grid adalah cara pemeriksaan yang dapat dilakukan penderita untuk memeantau progresitifitas penyakit.

·         Menberikan penguatan psikologi kalau usaha operasi dapat mengembalikan fungsi penglihatan.

·         Preoperasi, Perawat perlu memberikan informasi secara akurat dan tenangkan hati klien untuk mengurangi kecemasan klien.

·         Post Operasi, Hindari gerakan menghentakkan kepala (menyisir rambut, membungkuk, mengejan, bersin, batuk, muntah) dan batasi aktivitas yang berlebihan hingga tercapai penyembuhan. Perawat perlu membantu aktivitas sehari-hari klien untuk mencegah hentakan atau pergerakan kepala yang berlebihan.

 

 

 

 

 

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN POST OPERASI MENURUT DONGOES

Perubahan persepsi sensori melihat berhubungan dengan efek dari lepasnya saraf sensori dari retina.

Tujuan:

Tidak terjadi kehilangan penglihatan yang berlanjut.

Kriteria:

Klien memahami pentingnya perawatan yang intensif / bedrest total.

Klien mampu menjelaskan rresiko yang akan terjadi sehubungan dengan penyakitnya.

Intervensi:

Ajarkan klien untuk bedrest total. Rasional : agar lapisan saraf yang terlepas tidak bertambah parah.

Berikan penjelasan tujuan bedrest total. Rasional: agar klien mematuhi dan mengerti maksud perlakuan bedrest total.

Hindari pergerakan yang mendadak, menghentakkan kepala, batuk, bersin, muntah. Rasional : mencegah bertambah parahnya lapisan saraf retina yang terlepas.

Jaga kebersihan mata. Rasional: mencegah terjadinya infeksi.

Berikan obat tetes mata midriatik-sikloplegik dan obat oral sesuai anjuran dokter. Rasional: dengan pemberian obat-obatan diharapkan kondisi penglihatan dapat dipertahankan / tidak tertambah parah.

 

 

Ansietas yang berhubungan dengan ancaman kehilangan penglihatan

Tujuan:

Klien mampu menggambarkan ansietas dan pola kopingnya.

Klien mengerti tentang tujuan perawatan yang diberikan.

Klien memahami tujuan operasi, pelaksanaan operasi, pasca operasi, prognosisnya bila dilakukan operasi.

Intervensi :

Kaji tingkat ansietas klien (ringan, sedang, berat, panik). Rasional: untuk mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan klien sehingga memudahkan penanganan / pemberian askep selanjutnya.

Berikan kenyamanan dan ketenteraman hati. Rasional: agar klien tidak terlalu memikirkan penyakitnya.

Berikan penjelasan mengenai prosedur perawatan, perjalanan penyakit dan prognosenya. Rasional: agar klien mengetahui / memahami bahwa ia benar sakit dan perlu dirawat.

Berikan / tempatkan alat pemanggil yang mudah dijangkau oleh klien. Rasional: agar klilen merasa aman dan terlindungi saat memerlukan bantuan.

Gali intervensi yang dapat menurunkan ansietasnya. Rasional: untuk mengetahui cara yang efektif menurunkan / mengurangi ansietas klien.

Berikan aktivitas yang dapat menurunkan kecemasan / ketegangan. Rasional: agar klien dengan senang hati melakukan aktivitas karena sesuai dengan keinginanya dan tidak bertentangan dengan program perawatan.

 

Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan program terapeutik yang berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang aktivitas yang diperbolehkan dan yang dibatasi, obat-obatan, komplikasi danperawatan tindak lanjut.

Tujuan :

Klien mampu berintegrasi dengan program terapeutik yang direncanakan / dilakukan untuk pengobatan akibat dari penyakit dan penurunan situasi beresiko (tidak aman, polusi).

Kriteria:

Klien mengungkapkan ansietas berkurang tentang ketakutan karena ketidak tahuan, kehilangan kontrol dan kesalahan persepsi.

Menggambarkan proses penyakit, penyebab dan faktor penunjang pada gejala dan aturan untuk penyakit atau kontrol gejala.

Mengungkapkan maksud / tujuan untuk melakukan perilaku kesehatan yang diperlukan dan keinginan untuk pulih dari penyakit dan pencegahan kekambuhan atau komplikasi.

Intervensi:

Identifikasi faktor-faktor penyebab yang menghalangi penatalaksanaan program terapeutik yang efektif. Rasional: agar diketahui penyebab yang menghalangi sehingga dapat segera diatasi sesuai prioritas.

Bangun rasa percaya diri. Rasional: agar klien mampu melakukan aktifitas sendiri / dengan bantuan orang lain tanpa mengganggu program perawatan.

Tingkatkan rasa percaya diri dan kemampuan diri klien yang positif. Rasional: agar klien mampu dan mau melakukan / melaksanakan program perawatan yang dianjurkan tanpa mengurangi peran sertanya dalam pengobatan / perawatan dirinya.

Jelaskan dan bicarakan : proses penyakit, aturan pengobatan / perawatan, efek samping prognosis penyakitnya. Rasional : agar klien mengerti dan menyadari bahwa penyakitnya memerlukan suatu tindakan dan perlakuan yang tidak menyenagkan.

 

 

B. Operasi

a)     Elektrodiatermi

Dengan menggunakan jarum elektroda, melalui sclera untuk memasukkan cairan subretina dan mengeluarkan suatu bentuk eksudat dari pigmen epithelium yang menempel pada retina.

b)    Sclera Buckling

Suatu bentuk tehnik dengan jalan sclera dipendekkan, lengkungan terjadi dimana kekuatan pigmen epithelium lebih menutup retina, mengatasi pelepasan retina dan menempatkan posisi semula, maka sebuah silikon kecil diletakkan pada sclera dan diperkuat dengan membalut melingkar.

 

c)   Photocoagulasi

Suatu sorotan cahaya dengan laser menyebabkan dilatasi pupil. Dilakukan dengan mengarahkan sinar laser pada epithelium  yang mengalami pigmentasi.

 

d)   Cyro Surgery

Suatu pemeriksaan super cooled yang dilakukan pada sclera, menyebabkan kerusakan minimal seperti suatu jaringan parut, pigmen epithelium melekat pada retina.

e)   Cerclage

Operasi yang dikerjakan untuk mengurangi tarikan badan kaca. Pada keadaan cairan retina yang cukup banyak dapat dilaksanakan phungsi lewat sclera

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK DAN PENUNJANG ( REVISI )

1. Anamnesis

Gejala yang sering dikeluhkan pasien, adalah:

a. Floaters (terlihat benda melayang-layang), yang terjadi karena adanya kekeruhan

di vitreus oleh adanya darah, pigmen retina yang lepas atau degenerasi vitreus itu

sendiri.

b. Fotopsia/ light flashes (kilatan cahaya) tanpa adanya cahaya di sekitarnya, yang

umumnya terjadi sewaktu mata digerakkan dalam keremangan cahaya atau dalam

keadaan gelap.

c. Penurunan tajam penglihatan. Pasien mengeluh penglihatannya sebagian

seperti tertutup tirai yang semakin lama semakin luas. Pada keadaan yang telah

lanjut dapat terjadi penurunan tajam penglihatan yang lebih berat.

2. Pemeriksaan Oftalmologi

a. Pemeriksaan visus, dapat terjadi penurunan tajam penglihatan akibat terlibatnya

makula lutea ataupun terjadi kekeruhan media penglihatan atau badan kaca yang

menghambat sinar masuk. Tajam penglihatan akan sangat menurun bila makula

lutea ikut terangkat.

b. Pemeriksaan lapangan pandang, akan terjadi lapangan pandang seperti tertutup

tabir dan dapat terlihat skotoma relatif sesuai dengan kedudukan ablasio retina,

pada lapangan pandang akan terlihat pijaran api seperti halilintar kecil dan

fotopsia.

c. Pemeriksaan funduskopi, yaitu salah satu cara terbaik untuk mendiagnosis

ablasio retina dengan menggunakan binokuler indirek oftalmoskopi. Pada

pemeriksaan ini ablasio retina dikenali dengan hilangnya refleks fundus dan

pengangkatan retina. Retina tampak keabu-abuan yang menutupi gambaran

vaskuler koroid. Jika terdapat akumulasi cairan bermakna pada ruang subretina,

didapatkan pergerakkan undulasi retina ketika mata bergerak. Suatu robekan pada

retina terlihat agak merah muda karena terdapat pembuluh koroid dibawahnya.

Mungkin didapatkan debris terkait pada vitreus yang terdiri dari darah dan pigmen

atau ruang retina dapat ditemukan mengambang bebas.

3. Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui adanya penyakit

penyerta antara lain glaukoma, diabetes mellitus, maupun kelainan darah.

b. Pemeriksaan ultrasonografi, yaitu ocular B-Scan ultrasonografi juga digunakan

untuk mendiagnosis ablasio retina dan keadaan patologis lain yang menyertainya

seperti proliverative vitreoretinopati, benda asing intraokuler. Selain itu

ultrasonografi juga digunakan untuk mengetahui kelainan yang menyebabkan

ablasio retina eksudatif misalnya tumor dan posterior skleritis.

c. Pemeriksaan angiografi fluoresin akan terlihat:

1) Kebocoran didaerah parapapilar dan daerah yang berdekatan dengan

tempatnya ruptur, juga dapat terlihat

2) Gangguan permeabiltas koriokapiler akibat rangsangan langsung badan kaca

pada koroid.

3) Dapat dibedakan antara ablasi primer dan sekunder

4) Adanya tumor atau peradangan yang menyebabkan ablasi

 

 

 

 

 

 

g.       DIAGNOSA DAN INTERVENSI SEBELUM OPERASI ( Menurut NIC & NOC) ( REVISI )

DIAGNOSA yang mungkin muncul :

1.      Gangguan Persepsi Panca indera ( Penglihatan )

2.      Resiko cedera sehubungan dengan penurunan tajam penglihatan.

 

 

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN DAN MONITORING

No

Diagnosa Kep

(NANDA)

Ditandai dengan DS/ DO

Tujuan dan Kriteria Hasil (NOC)

Intervensi

Kep dan Aktivitas (NIC)

 

1.

 

Gangguan Persepsi Panca indera ( Penglihatan )

 

Data Subjektif :

-          Klien mengeluh pandangannya seperti melihat benda beterbangan dan juga kadang-kadang melihat ada kilatan pada mata kirinya.

 

Data Objektif :

-          Papil bulat, batas tegas, CDR 0,3, aa/vv = 2/3

Ablasio retina (+) di superior temporal meluas ke inferior temporal. Corrugated (+), Tear(+), macula on

-           

 

Defenisi:

perubahan dalam jumlah maupun pola rangsangan yang diterima yang disertai dengan penyusutan,

pelebihan, penyimpangan,

atau gangguan tanggapan

terhadap rangsangan

tersebut.

Batasan Karaktristik :

·         Berubahnya pola

perilaku

·         Berubahnya  ketajaman pancaindera

·         Distorsi pancaindera

·         Konsentrasi yang

lemah

·         Kegelisahan

Faktor-faktor yang berhubungan :

·         Pengintegrasian pancaindera yang

terganggu

·         Penerimaan terhadap pancaindera yang

terganggu

 

NOC : Kompensasi Tingkahlaku Penglihatan

 

Defenisi: kegiatan untuk mengimbangi lemahnya penglihatan

Indikator :

·      - Pantau gejala dari semakin buruknya penglihatan

·      - Posisikan diri untuk menguntungkan penglihatan

·      - Ingatkan yang lain untuk menggunakan teknik yang menguntungkan penglihatan

·      - Gunakan pencahayaan yang cukup untuk aktivitas yang sedang dilakukan

·      - Memakai kacamata dengan benar

·      Memakai kontak lens dengan bear

·      - Merawat kacamata dengan benar

·      - Menggunakan alat bantu penglihatan yang lemah

·      - Menggunakan layanan pendukung untuk penglihatan yang lemah

·      - Menggunakan alat bantu komputer

 

 

NOC : Kontrol Kecemasan

 

Defenisi:

tindakan seseorang untuk menghilangkan dan

mengurangi perasaan

- ketakutan dan tertekan yang sumbernya tidak bisa diidentifikasi.

Indikator :

·      - Memantau intensitas

kecemasan

·      - Menghilangkan pencetus kecemasan

·      - Menurunkan rangsang lingkungan ketika cemas

·      - Mencari informasi untuk mengurangi kecemasan

·      koping terhadap situasi yang menekan

·      - Menggunakan strategi koping yang efektif

·      - Menggunakan teknik relaksasi untuk mengurangi rasa cemas

·      

-       Melaporkan jangka waktu penurunan setiap episode

 

 

NIC : Peningkatan Komunikasi : Defisit

melihat

Defenisi: membantu dalam menerima dan mempelajari metode alternatif untuk hidup dengan gangguan penglihatan.

Aktivitas :

·      - Kenali diri sendiri ketika memasuki ruang pasien

·      - Catat reaksi pasien terhadap rusaknya penglihatan (misal, depresi, menarik diri, dan menolak kenyataan

·     -  Menerima reaksi pasien  terhadap rusaknya penglihatan

·     -  Bantu pasien dalam menetapkan tujuan yang baru untuk belajar bagaimana “melihat” dengan indera yang lain

·     - Andalkan penglihatan pasien yang tersisa sebagaimana mestinya

·      - Berjalan satu dua langkah di depan pasien, dengan siku pasien berada di sikumu

·      - Rujuk pasien dengan masalah penglihatan ke agen yang sesuai

·     -  Jangan memindahkan benda-benda di kamar pasien tanpa memberitahu pasien

·     -  Bacakan surat, koran, dan informasi lainnya pada pasien

·      - Identifikasi makanan yang ada dalam baki dalam kaitannya dengan angka-angka pada jam

·     -  Gambarkan lingkungan kepada pasien

NIC : Manajemen

Lingkungan

Defenisi: memanipulasi sekeliling pasien untuk kebaikan terapeutik.

Aktivitas :

 

·   - Ciptakan lingkungan yang aman untuk pasien

·   - Identifikasi kebutuhan rasa aman pasien,

berdasarkan tingkatan fungsi fisik dan kognisi dan sejarah perilaku di masa lalu

·   - Hilangkan objek-objek yang membahayakan dari lingkungan

·   - Sediakan kasur yang bersih lagi nyaman

·   - Beri keluarga/orang

penting lainnya

informasi tentang

menciptakan lingkungan rumah yang aman bagi pasien

 

2.

 

Resiko cedera sehubungan denganpenurunan tajam penglihatan.

 

Definisi : Suatu kondisi individu yang berisiko untuk mengalami cedera sebagai akibat dari kondisi lingkungan yang berhubungan dengan sumber-sumber adaptif dan pertahanan.

b. Faktor Risiko :

Eksternal :

·                     Biologis ( tingkat imunisasi komunitas, mikroorganisme)

·                     Kimia (misalnya, racun,polutan, obat-obatan, agen farmasi,alkohol, nikotin,pengawet, kosmetik, pewarna)

·                     Orang (agen nosokomial, pola pemupukan, pola-pola kognitif, afektif dan psikomotor)

·                     Jenis transportasi

·                     Nutrisi  (vitamin, jenis makanan)

·                     Fisik (desain, struktur, dan penataan komunitas, bangunan, dan /perlengkapan)

Internal :

·                     Profil darah yang abnormal (leukositosis atau leukopenia, perubahan faktor penggumpalan darah, trombosiopenia, menurunnya kadar hemoglobin)

·                     Disfungsi biokimia

·                     Usia perkembangan (psikologis,psikososial)

·                     Disfungsi efektor

·                     Penyakit imun/ autoimun

·                     Disfungsi integratif

·                     Malnutrisi

·                     Fisik (kulit terkelupas, perubahan mobilitas)

·                     Psikologis (orientasi afektif)

·                     Disfungsi sensori

·                     Hipoksia jaringan

 

Data Subjektif : Pada 5 hari SMRS, mata kanan pasien mendadak buram

Pasien merasa pandangan menjadi gelap seperti ada rambut atau asap berterbangan di matanya. Lama kelamaan semakin gelap hingga yang kelihatan hanya pinggir sebelah kanan

Riwayat Hipertensi (+) sejak 10 tahun yang lalu

 

Data Objektif :

Keadaan Umum          :

pasien tampak sakit

TD       : 140/80 mmHg

nadi     : 84 x/menit

nafas    : 16 x/ menit

Lensa : Keruh, shadow test (+)

 

NOC : Kontrol Risiko : Pelemahan Penglihatan

Definisi : tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi kemungkinan perubahan fungsi penglihatan

-       Pantau gejala kemunduran penglihatan

-       Pantau lingkungan yg membahayakan mata

-       Hindari bahaya utk mata

-       Gunakan penerangan yg cukup selama beraktivitas

-       Istirahat dari kegiatan yg menegangkan mata

-       Pantau gejala penyakit mata

-       Gunakan resep obat mata dg benar

-       Gunakan alat pelindung mata

 

-       Dapatkan pemeriksaan mata

 

NIC : Manajemen Keamanan

Aktifitas :

·         - Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien

·         - Identifikasi kebutuhan keamanan klien

·        -  Pindahkan benda-benda berbahaya dari sekitar klien

·         - Pindahkan benda-benda berisiko dari lingkungan klien

·         - Sediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih

·         - Posisikan tempat tidur agar mudah terjangkau

·        -  Kurangi stimulus lingkungan

 

NIC : Pencegahan jatuh

Aktifitas :

·         - Identifikasi deficit fisik yang berpotensi untuk jatuh

·        -  Identifikasi karakteristik lingkungan yang meningkatkan potensi jatuh ( seperti lantai yang licin)

·         - Berikan peralatan yang menunjang untuk mengokohkan jalan

·         - Ajarkan klien bagaimana berpindah untuk meminimalisir trauma

·         - Hindari barang-barang berserakan di lantai

·         - Ajarkan keluarga tentang faktor resiko yang berkontribusi pada jatuh dan bagaimana mengurangi resiko jatuh

-    Kaji keluarga dalam mengidentifikasi bahaya di rumah dan bagaimana memodifikasikannya

 

 

 

 

 

 

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN POST OPERASI MENURUT DONGOES

Perubahan persepsi sensori melihat berhubungan dengan efek dari lepasnya saraf sensori dari retina.

Tujuan:

Tidak terjadi kehilangan penglihatan yang berlanjut.

Kriteria:

Klien memahami pentingnya perawatan yang intensif / bedrest total.

Klien mampu menjelaskan rresiko yang akan terjadi sehubungan dengan penyakitnya.

Intervensi:

Ajarkan klien untuk bedrest total. Rasional : agar lapisan saraf yang terlepas tidak bertambah parah.

Berikan penjelasan tujuan bedrest total. Rasional: agar klien mematuhi dan mengerti maksud perlakuan bedrest total.

Hindari pergerakan yang mendadak, menghentakkan kepala, batuk, bersin, muntah. Rasional : mencegah bertambah parahnya lapisan saraf retina yang terlepas.

Jaga kebersihan mata. Rasional: mencegah terjadinya infeksi.

Berikan obat tetes mata midriatik-sikloplegik dan obat oral sesuai anjuran dokter. Rasional: dengan pemberian obat-obatan diharapkan kondisi penglihatan dapat dipertahankan / tidak tertambah parah.

 

 

Ansietas yang berhubungan dengan ancaman kehilangan penglihatan

Tujuan:

Klien mampu menggambarkan ansietas dan pola kopingnya.

Klien mengerti tentang tujuan perawatan yang diberikan.

Klien memahami tujuan operasi, pelaksanaan operasi, pasca operasi, prognosisnya bila dilakukan operasi.

Intervensi :

Kaji tingkat ansietas klien (ringan, sedang, berat, panik). Rasional: untuk mengetahui sejauh mana tingkat kecemasan klien sehingga memudahkan penanganan / pemberian askep selanjutnya.

Berikan kenyamanan dan ketenteraman hati. Rasional: agar klien tidak terlalu memikirkan penyakitnya.

Berikan penjelasan mengenai prosedur perawatan, perjalanan penyakit dan prognosenya. Rasional: agar klien mengetahui / memahami bahwa ia benar sakit dan perlu dirawat.

Berikan / tempatkan alat pemanggil yang mudah dijangkau oleh klien. Rasional: agar klilen merasa aman dan terlindungi saat memerlukan bantuan.

Gali intervensi yang dapat menurunkan ansietasnya. Rasional: untuk mengetahui cara yang efektif menurunkan / mengurangi ansietas klien.

Berikan aktivitas yang dapat menurunkan kecemasan / ketegangan. Rasional: agar klien dengan senang hati melakukan aktivitas karena sesuai dengan keinginanya dan tidak bertentangan dengan program perawatan.

 

Resiko terhadap ketidak efektifan penatalaksanaan program terapeutik yang berhubungan dengan ketidak cukupan pengetahuan tentang aktivitas yang diperbolehkan dan yang dibatasi, obat-obatan, komplikasi danperawatan tindak lanjut.

Tujuan :

Klien mampu berintegrasi dengan program terapeutik yang direncanakan / dilakukan untuk pengobatan akibat dari penyakit dan penurunan situasi beresiko (tidak aman, polusi).

Kriteria:

Klien mengungkapkan ansietas berkurang tentang ketakutan karena ketidak tahuan, kehilangan kontrol dan kesalahan persepsi.

Menggambarkan proses penyakit, penyebab dan faktor penunjang pada gejala dan aturan untuk penyakit atau kontrol gejala.

Mengungkapkan maksud / tujuan untuk melakukan perilaku kesehatan yang diperlukan dan keinginan untuk pulih dari penyakit dan pencegahan kekambuhan atau komplikasi.

Intervensi:

Identifikasi faktor-faktor penyebab yang menghalangi penatalaksanaan program terapeutik yang efektif. Rasional: agar diketahui penyebab yang menghalangi sehingga dapat segera diatasi sesuai prioritas.

Bangun rasa percaya diri. Rasional: agar klien mampu melakukan aktifitas sendiri / dengan bantuan orang lain tanpa mengganggu program perawatan.

Tingkatkan rasa percaya diri dan kemampuan diri klien yang positif. Rasional: agar klien mampu dan mau melakukan / melaksanakan program perawatan yang dianjurkan tanpa mengurangi peran sertanya dalam pengobatan / perawatan dirinya.

Jelaskan dan bicarakan : proses penyakit, aturan pengobatan / perawatan, efek samping prognosis penyakitnya. Rasional : agar klien mengerti dan menyadari bahwa penyakitnya memerlukan suatu tindakan dan perlakuan yang tidak menyenagkan.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA ( KLIK DISINI )

 

C. Smeltzer, Suzanne (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Brunner & Suddart) . Edisi 8. Volume 3. EGC. Jakarta

Brooker, Christine. 2001. “Buku Saku Keperawatan Edisi 31”. Jakarta: EGC.

Hazil, Maryadi. 2009. “Askep Ablasio Retina”.

Ilyas, Sidarta. 2009. “Ilmu Penyakit Mata”. Jakarta: FKUI.

Johnson, Marion, dkk. 2000. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA

McCloskey, Joanne C and Gloria M.Bulecheck.1996. Nursing Interventions

http://bangeud.blogspot.com/2011/11/asuhan-keperawatan-pada-klien-ablasio.html

 

 

 

Diposkan oleh julviana yana di Rabu, April 17, 2013

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Label: Asuhan keperawatan

Reaksi: